Kamis, 23 Desember 2010

MEMILIH GURU NGAJI


Sumber : Majelis Dzikir At-Taubah Cilegon Banten.


Penulis sengaja memilih judul ini “MEMILIH GURU NGAJI” karena menurut penulis ini sangat penting untuk diketahui oleh semua orang Islam.
Yang penulis maksud dengan guru ngaji disini adalah guru yang mengajarkan tentang ketauhidan kepada Allah SWT, karena dari nabi Adam AS sampai nabi Muhammad SAW semuanya membawa misi tentang mentauhidkan atau mengesakan Allah SWT.

Salah dalam memilih guru ngaji kemungkinan salah pula dalam melangkah kedepan untuk bersikap dalam beragama.

Tentang keinginan belajar ilmu agama selain ilmu tauhid misal ilmu syariat/ilmu fiqih, ilmu nahwu, ilmu bahasa arab, ilmu hadist dan lain-lain, silahkan saja belajar ke ustad atau kyai kebanyakan. Untuk belajar ilmu syariat/ilmu fiqih umumnya tidak terlepas dari mazhab empat imam, yaitu Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Hambali dan Imam Syafei.

Mana yang lebih didahulukan, belajar ilmu tauhid atau ilmu agama yg lainnya?
Kalau bisa semuanya, seandainya tidak bisa maka harus mendahulukan belajar ilmu tauhid. Karena belajar ilmu tauhid hukumnya lebih wajib daripada wajib yang lainnya.
Allah SWT berfirman dalam AlQur’an “….dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. 4:48)
Sedangkan lawan dari syirik adalah tauhid dan dari sini terlihat jelaslah bahwa tauhid menempati urutan pertama dibanding dengan ilmu yg lainnya.

Dari ilmu tauhid ini akan melahirkan/menurunkan ilmu adab, ilmu tatakrama, ilmu sopan santun, ilmu akhlaq, seperti hadist nabi : “dan tidaklah aku diutus melainkan untuk menyempurnakan kesempurnaan akhlak” (HR. Bukhori Muslim)
dalam hadist lainnya nabi bersabda, bahwa seorang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling mulia akhlaknya ( HR. At Tirmidzi )

Ilmu akhlak dibagi dua yaitu akhlak makhluk kepada penciptanya (Hablum Minallah) dan akhlak makhluk kepada makhluk yg lainnya.

Dari ilmu akhlak/adab/tatakrama/sopansantun ini akan melahirkan ilmu syariat/ilmu fikih. Ilmu syariat seperti sebuah SOP (Standard Operating Prosedur) atau sebuah tatacara yang dibakukan untuk melakukan sesuatu hal yg berhubungan dengan agama dan cara menjalankan SOP tersebut harus sudah dicontohkan oleh Rosulullah SAW. Misalkan kalau ingin sholat maka tatacaranya (SOPnya) harus begini dan begitu, anggota badan, pakaian dan tempat harus bersih dan suci, dll. Itu semua sebetulnya adalah menggambarkan sebuah adab atau tatakrama sopan santun untuk menghadap kepada sang Pencipta.

Ok, kita kembali ke masalah guru tauhid.
Lantas bagaimana kriteria dalam memilih guru ngaji tauhid?

Dalam memilih guru ngaji disini penulis menggunakan metode “ILMU SANAD HADIST”

Kalau kita perhatikan dalam periwayatan sebuah hadist nabi, disana ada sebuah sanad atau mata rantai yang menghubungkan antara pembaca/pengamal hadist dengan Rosulullah Nabi Muhammad SAW.

Contoh sebuah sanad/mata-rantai hadist adalah ( tentang niat) :

Alhamidi Abdullah bin Zubair menyampaikan hadits kepada kami dengan berkata: Sufyan telah menyampaikan hadits kepada kami dengan berkata: yahya bin Sa’id Al-Anshari telah menyampaikan hadits kepada kami dengan berkata: Muhammad bin Ibrahim at-Taimiy telah memberitahukan kepadaku ia telah mendengar Al-Qamah bin Waqash dari Umar bin al-Khatab r.a. berkata di atas mimbar (jum’at): Saya telah mendengar Rasullah SAW. Bersabda: Sesungguhnya setiap amal itu tergantung kepada niatnya dan seseorang itu hanya akan mendapatkan (sesuatu) sesuai dengan niatnya.Siapa melakukan hijrah untuk memperoleh dunia maka ia akan memperolehnya, atau demi wanita maka ia akan menikahinya,…. (Hadist Riwayat Bukhari).

Kalau ditulis lebih sederhana sanad/mata rantai hadist diatas adalah sebagai berikut:

Al-Bukhari =► Alhamidi Abdullah bin Zubair =► Sufyan =►Yahya bin Sa’id Al-Anshari =► Muhammad bin Ibrahim at-Taimiy =► Al-Qamah bin Waqash =► Umar bin al-Khatab r.a =► Rosulullah Nabi Muhammad SAW.


Hadist tentang NIAT diatas adalah shahih, artinya memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a. Sanadnya bersambung.
b. Diriwayatkan oleh penutur/perawi yg adil, memiliki sifat istiqomah, berakhlak
baik,tidak fasik, terjaga muruah(kehormatan)-nya, dan kuat ingatannya.
c. Matan (redaksi dari hadits)-nya tidak mengandung kejanggalan/bertentangan (syadz) serta tdk ada sebab tersembunyi atau tdk nyata yg mencacatkan hadits.

LANTAS APA HUBUNGAN ANTARA HADIST DENGAN MEMILIH GURU NGAJI/TAUHID?


Ya, ada hubungannya yaitu menyangkut masalah SANAD. Kalau di ilmu hadist ada sanad (mata rantainya bersambung ke Rosulullah SAW) maka dalam memilih guru ngaji harus ada sanadnya juga (mata rantai guru ngaji yang bersambung kepada Rosulullah Nabi Muhammad SAW)
Misal guru tauhid a (guru ngaji yg masih hidup) dari guru tauhid b dari guru tauhid c dari guru tauhid d dan seterusnya sampai bersambung ke Rasulullah SAW. Rasulullah SAW dari ALLAH SWT melalui perantara Malaikat Jibril AS.

Mata rantai bisa juga terbentuk ketika seseorang mengalami sebuah perjalanan spiritual bertemu dengan Rosulullah SAW, sehingga membentuk sebuah mata rantai baru dan ini bisa saja terjadi kapan saja dan di daerah mana saja.

Jumlah guru ngaji tauhid yang sanadnya nyambung ke Rosulullah SAW tsb setiap waktunya (setiap jamannya) berjumlah sama dengan jumlah para sahabat Nabi SAW. Jika salah satu dari mereka ada yang meninggal dunia maka Allah SWT akan segera menggantinya dengan lainnya.

Jumlah sahabat Nabi SAW sama dengan jumlah para Nabi.
Jumlah para Nabi menurut hadist adalah 124.000 (seratus dua puluh empat ribu)

Dari Abi Dzar :ia berkata : "Saya bertanya, wahai Rasulullah berapa jumlah nabi?". Beliau menjawab, "Jumlah nabi sebanyak 124.000 orang, di antara mereka yang termasuk rasul sebanyak 315 orang" (H.R. Ahmad).
Disebutkan bahwa para Sahabat Nabi SAW berjumlah 124 ribu orang. Dan Sahabat yang paling terakhir meninggal dunia adalah Abu at-Thufail Amir bin Waatsilah al-Laitsi. Sebagaimana yang ditegaskan oleh imam Muslim, beliau meninggal pada tahun 100H, dan ada yang mengatakan pada tahun 110 H.(dikutip dari Keutamaan dan Hak-Hak Para Sahabat, Abdullah bin Sholeh Al-Qushair, Cetakan Islamic Da'wah, hal 8-9)

Dalam sebuah hadist dikatakan bahwa “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi. Sungguh para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak”. (HR: Tirmidzi, Ahmad, Ad-Darimi, Abu Dawud.).
Dari hadist diatas dikatakan bahwa ulama adalah pewaris para Nabi, sedangkan jumlah Nabi ada 124.000 orang. Jadi seorang ulama bisa saja mewarisi ilmunya Nabi Ibrahim AS, Nabi Khidir AS, Nabi Musa AS, Nabi Muhammad SAW (sudah pasti) dan lain-lain.

Selanjutnya penulis berpendapat bahwa jumlah ulama/guru ngaji tauhid yg sanadnya bersambung ke Nabi Muhammad SAW pada setiap waktu adalah berjumlah 124 ribu orang. Mereka menyebar keseluruh dunia oleh karena itu carilah salah satu dari mereka agar diri kita tersambung ke Rosulullah SAW melalui mereka.

Ibarat aliran listrik, Allah SWT sebagai pembuat pembangkit listriknya (pembuat generatornya), Rosulullah SAW bertindak sebagai pembangkit listriknya (generatornya), guru ngaji tauhid bertindak sebagai jaringan distribusi listriknya (trafo dan kabel listriknya) sedangkan kita-kita ini adalah bertindak sebagai pelanggan/konsumen/pemakai aliran listrik tsb.

Dengan menyambungkan diri kita ke salah satu guru ngaji tsb maka insyaAllah lampu yg ada dihati kita akan menyala karena teraliri listrik dari Rosulullah SAW melalui kabel guru ngaji tauhid tsb (waAllahu ‘alam). Setiap guru ngaji tauhid tidak serta merta menjadi guru ngaji tauhid. Mereka semacam ada surat tugas (amanah) dari Rosulullah SAW melalui sebuah perjalanan spiritual. Yg dimaksud perjalanan spiritual disini bisa saja ketika seseorang itu sedang tidur atau dengan kondisi lainnya.
Dalam sebuah hadist Nabi dikatakan : Barangsiapa melihatku di dalam tidurnya, maka ia sungguh telah melihatku, karena syetan tidak dapat menyerupaiku. (HR. Bukhari)
”Barangsiapa yang melihatku disaat tidur maka sungguh dia telah melihatku. Sesungguhnya syetan tidak bisa menyerupaiku.” (HR, Tirimidzi)

Mungkin dalam hati para pembaca akan timbul beberapa pertanyaan antara lain :
1. Bagaimana kita tahu bahwa orang dalam mimpi tsb adalah Rasulullah SAW, sedangkan
kita bukanlah seorang sahabat Nabi atau keluarga Nabi yg memang secara fisik
sudah pernah bertemu dengan Rasulullah SAW ?
2. Apakah tidak mungkin syetan/iblis mengaku-aku dirinya Rasulullah SAW dengan
merubah bentuk menjadi seorang manusia kemudian menampakkan kepada orang awam
sedangkan secara fisik/rupa/bentuknya sebetulnya jauh dari fisik/rupa/bentuk
Rasulullah SAW ?

Orang yg mimpi bertemu dengan Rasulullah SAW biasanya dalam mimpinya ada sebuah petunjuk yang memberitahu bahwa orang itu adalah Rasulullah SAW, petunjuk itu datangnya bisa dari dalam hatinya (hatinya melihat dan berkata) bahwa orang itu adalah Rasulullah SAW. Dalam AlQur’an surat An-Najm ayat 11 dikatakan “Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya”.

Menurut QS. An-Najm ayat 11 diatas dapat dikatakan bahwa apa-apa yg dilihat/didengar/dikatakan oleh hati itu memang benar adanya, baik orang itu dalam keadaan terjaga maupun sedang tidur. Yang penulis maksud hati disini adalah hati nurani. Hati nurani bersumber dari NUR (cahaya Ilahi). Hati nurani mempunyai mata hati, telinga hati dan suara hati.

Pemberitahu lain dari orang yg mimpi bertemu dengan Rasulullah SAW selain dari hati nurani adalah bisa juga dari seseorang yang menunjukkan kepada pemimpi bahwa orang yg ditunjukkan itu adalah Rasulullah SAW atau bisa juga Rasulullah SAW sendiri yang memberitahu kepada pemimpi bahwa dia adalah Rasulullah SAW dan hati nurani si pemimpi membenarkannya. WaALLAHU ‘alam bissowab.

Penulis mohon maaf bila ada kesalahan dalam penulisan artikel ini,(sambil direvisi)

Wassalam.

Selasa, 13 Juli 2010

Hubungan Antara 4 Unsur (Api, Angin, Air, Tanah) Dengan Gerakan-Gerakan Dalam Sholat



Sumber : Majelis Dzikir At-Taubah Cilegon Banten.

Pada tulisan sebelumnya telah dijelaskan bahwa nafsu amarah tercipta dari unsur saripati api, nafsu lawwamah tercipta dari unsur angin, nafsu mulhimah tercipta dari unsur air dan nafsu mutmainnah tercipta dari saripati tanah dan juga sifat-sifat dari keempatnya.

Selanjutnya pada tulisan ini akan dibahas mengenai hubungan antara nafsu/jiwa dengan geraka-gerakan dalam sholat.

Dalam AlQur’an surat Al 'Ankabuut (29) ayat 45 dikatakan bahwa:
………….Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Dari dalil diatas terlihat bahwa ada hubungannya antara sholat (dalam hal ini salah satunya adalah gerakan-gerakan dalam sholat) dengan perbuatan keji dan mungkar yang biasa dilakukan oleh hawa nafsu.

Dalam sholat, gerakan sholat dibagi menjadi 5 gerakan yaitu:
1. Gerakan pertama dalam sholat adalah berdiri.
Ini adalah sama dengan sifat nafsu amarah dimana nafsu ini tercipta dari unsur api.
Sifat api salah satunya adalah selalu berdiri. Disinilah nafsu amarah yang ada pada diri manusia disempurnakan (dikembalikan ke kejadian asalnya yaitu anasir api) dengan bacaan-bacaan ketika berdirinya sholat yaitu antara lain bacaannya adalah ALLAHU AKBAR dan bacaan surat AlFatihah.

"ALLAHU AKBAR" menyempurnakan jiwa--jiwa yang memang perlu disempurnakan, oleh karena itu setiap ingin membunuh atau menyembelih binatang harus membaca ALLAHU AKBAR 3 kali setelah didahului dengan bacaan Bismillahi.

Jika proses penyempurnaannya berhasil, insyaAllah setelah selesai sholat tidak ada lagi rasa dendam, rasa ingin marah-marah dll. Sifat marah-marah, dendam, ingin menang sendiri dll, masuk ke dalam tubuh kita bersamaan dengan makanan yg kita makan jika makanan tersebut proses masaknya dengan menggunakan api, contohnya memasak nasi, sayur dll.

Oleh karena itu jika ingin mengurangi rasa amarah pada diri kita sebaiknya kurangi makanan-makanan yg dimasak menggunakan api, atau lebih tepatnya sering-seringlah berpuasa.

2. Gerakan kedua dalam sholat adalah rukuk.
Rukuk dalam sholat jika digambarkan badan kita dari pinggul sampai ke kepala akan membentuk sebuah garis horizontal. Ini sama dengan sifat angin yg biasanya bergerak secara horizontal dan nafsu lawwamah tercipta dari unsur saripati angin ini, dimana sifatnya adalah cenderung tidak punya pendirian, selalu menyesali diri, malas, selalu menuruti birahi/sex yg over dan nafsu makan yg terkadang berlebihan. Sifat ini biasanya dimiliki oleh binatang ternak. Jadi nafsu ini identik dengan nafsunya binatang ternak yang hanya makan, malas dan birahi/sex saja yang ada di otaknya.

Dalam gerakan rukuk sholat inilah nafsu lawwamah/kebinatangan yang ada pada diri manusia disempurnakan (dikembalikan ke kejadian asalnya yaitu ke anasir angin) dengan bacaan-bacaan ketika rukuknya sholat yaitu bacaannya adalah ALLAHU AKBAR, SUBHANA RABBIAL ADZIMI WA BIHAMDIHI 3x
Jika proses penyempurnaannya berhasil, insyaAllah setelah selesai sholat bisa lebih mengontrol sifat-sifat yg kurang terpuji yg telah disebutkan diatas.

3. Gerakan ketiga dalam sholat adalah sujud.
Sujud merupakan symbol dari sifat rendah diri dihadapan sang Pencipta. Saat sholat kepala/muka berada di bawah selevel dengan telapak kaki.
Ini sama dengan sifat air yang selalu mencari tempat yg terendah. Lihatlah air, dia selalu mencari dataran yg lebih rendah. Ini menandakan air selalu dalam keadaan bersujud dimanapun berada.

Dalam gerakan sujud pada sholat ini anasir air atau nafsu mulhimah yang ada pada diri manusia disempurnakan (dikembalikan ke kejadian asalnya yaitu ke anasir air) dengan bacaan-bacaan ketika sujudnya sholat.

Yang jadi pertanyaan adalah kenapa nafsu/jiwa ini juga perlu disempurnakan? Bukankah nafsu ini adalah nafsu yang tergolong baik? Selalu mengajak bersifat rendah hati pada sesamanya, lowprofil, pandai membawa diri dll. Ya memang benar, tapi nafsu ini bukan sebenarnya diri kita sejati, makanya tetap harus disempurnakan sebelum kita meninggal dunia. DIRI KITA SEJATI ADALAH RUH (CAHAYA ILAHI) YANG DITIUPKAN KE DALAM RAHIM IBU PADA SAAT JANIN BERUSIA ANTARA 3-4 BULAN DALAM KANDUNGAN. RUH (CAHAYA ILAHI) TERSEBUT BERSEMAYAM DI DALAM HATI NURANI.

4. Gerakan keempat dalam sholat adalah duduk diantara dua sujud.
Duduk diantara dua sujud disini artinya badan atau jasmani kita mendekat ke arah tanah dan memang salah satu unsur penciptaan manusia adalah dari tanah.
Dalam gerakan duduk diantara dua sujud ini dimaksudkan untuk menyempurnakan nafsu mutmainnah agar sempurna kembali keasal kejadiannya yaitu anasir/unsur tanah, dengan bacaan takbir dan Robbighfirli warhamni…….dst.

Nafsu/jiwa mutmainnah ini juga tergolong nafsu yang selalu mengajak kearah kebaikan, selalu ingin banyak beribadah, rela berkorban untuk kepentingan orang lain, mau menanggung beban orang lain dll. Tapi sekali lagi nafsu ini bukan diri kita sejati, makanya sebelum meninggal dunia harus dikembalikan ke kejadian asalnya yaitu anasir tanah.

5. Gerakan kelima dalam sholat adalah duduk dengan bacaan tahiyat.

Rasullullah SAW bersabda bahwa sholat itu mi’rajnya orang mukmin (H.R. Baihaki, Muslim) Mi’raj artinya naik, mengalami kenaikan pengalaman/perjalanan spiritual menuju lebih dekat dengan Allah SWT.

Pada gerakan kelima dalam sholat inilah proses mi’raj terjadi. Renungilah arti dari bacaan-bacaannya:

Tahiyat adalah ucapan Nabi Muhammad SAW dimalam mi’raj. Dimana ketika Nabi sampai disuatu tempat (diatas Sidratul Muntaha) bertemu dengan Allah SWT, Nabi berkata:" Attahiyaatul Mubaraktus Shalawatut Toyibaatu lillah.. (Segala Penghormatan,
Keberakahan, Rahmat, dan Kebaikan hanya milik Allah).

Dijawab oleh Allah:" Assalamu alaika ayuhan nabiyu warahmatullahi wabarokatuh.. ( Salam, rahmat, dan keberkahan untuk mu ya Nabi (Muhammad).

Ditempat yg sedemikina tinggi dan agung, dimana Allah SWT hanya mengucapkan salam untuknya, beliau tidak lupa pada ummatnya.
Maka Nabi berkata:" Assalamu alaynaa wa'alaa ibaadillahis soliheen. (Salam untuk kami, dan hamba hamba Allah yang soleh)

Rupanya dialog antara Allah SWT dan Nabi (s.a.w) didengar oleh para Malaikat dilangit, maka mereka bersaksi: "Ashadu alla ilaha illallah, wa ashadu anna Muhammadar Rasulullah" ( Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah).

Kesimpulan:

Pada kesimpulan ini penulis akan mencoba menarik benang merah antara “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar” (QS Al 'Ankabuut (29) ayat 45) dengan hadist Rasullullah SAW yang mengatakan bahwa “sholat itu mi’rajnya orang mukmin”

Jadi sebenarnya bahwa untuk melakukan mi’raj, perjalanan spiritual dalam sholat saat tahiyat adalah dengan syarat melaksanakan perintah terlebih dulu ayat 45 Alqur’an surat Al 'Ankabuut diatas, dalam arti bahwa kita harus bisa menundukkan dan menyempurnakan terlebih dulu 4 nafsu atau 4 jiwa yang merupakan jelmaan dari 4 unsur (api, angin, air, tanah) yang ada pada diri manusia yang telah dibahas pada bab sebelumnya.

Wujud dalam sholat dari “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar” adalah gerakan berdirinya sholat, rukuknya sholat, sujudnya sholat dan duduk diantara 2 sujud dalam sholat beserta bacaannya.

Sedangkan wujud dalam sholat dari “sholat itu mi’rajnya orang mukmin” adalah gerakan duduk tahiyat dan bacaannya dalam sholat.

Dengan menundukkan/mengendalikan 4 nafsu (bukan membunuhnya atau menghilangkannya) dalam tingkah laku/akhlaq kehidupan sehari-hari dan menyempurnakannya dalam sholat (gerakan sholat dan bacaannya yang khusuk) maka 4 nafsu/4 jiwa tersebut akan menjadi kendaraan atau Buraq dalam melakukan perjalanan spiritual/mi’raj setahap demi setahap menuju Dzat Yang Maha Sempurna Allah SWT melalui sholat.

WaAllahu ‘alam bissowab (hanya Allah SWT saja yang Maha Mengetahui yang sebenarnya), penulis mohon maaf jika ada kesalahan dalam penulisan artikel ini.

Wassalam

Minggu, 04 April 2010

Empat Unsur Api, Angin, Air, Tanah dan 4 Nafsu Amarah, Lawwamah, Mulhimah & Mutmainah

Sumber : Majlis Dzikir At-Taubah Cilegon Banten.

Telah kita ketahui bersama bahwa segala sesuatu yang ada di langit dan dibumi dan segala sesuatu yang ada diantaranya bertasbih kepada Allah SWT.

Dalil Alqur’an bahwa benda mati dan benda hidup bertasbih:

QS. Al Israa (17) : 44
Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.

Dari ayat diatas dijelaskan bahwa benda hidup dan benda mati bertasbih kepada Allah SWT.

QS.Saba/34:10
Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Daud kurnia dari Kami. (Kami berfirman): "Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud", dan Kami telah melunakkan besi untuknya,

Dalil hadist bahwa benda mati juga bertasbih:

‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Sungguh dahulu kami mendengar makanan bertasbih dalam keadaan sedang dimakan.” [HR.Bukhari:3579]

Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu berkata: “Sesungguhnya aku menyaksikan Rasulullah SAW dalam sebuah halaqoh; ditangannya ada batu kerikil, lalu batu kerikil itu bertasbih di telapak tangannya. Bersama kami ada Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman dan ‘Ali radhiyallahu ‘anhuma, maka orang-orang yang berada dalam halaqoh semua mendengar tasbihnya. Kemudian (batu itu) diberikan kepada Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu; lalu batu tersebut bertasbih ditelapak tangannya , semua yang berada di halaqoh mendengar tasbihnya. Kemudian diberikan kembali kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan bertasbih lagi ditangannya. Kemudian diberikan kepada ‘Umar
radhiyallahu ‘anhu, lalu bertasbih ditelapak tangannya, semua yang berada di halaqoh mendengar tasbihnya. Kemudian diberikan kepada ‘Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, lalu bertasbih ditangannya. Kemudian diberikan kepada kami, tetapi batu tersebut tidak bertasbih ketika berada di tangan salah seorang dari kami. [HR.ath Thabrani]

Dalil Secara Ilmu Fisika :

Kita tahu bahwa setiap benda itu kalau dipecah-pecah menjadi bagian yang lebih kecil disebut MOLEKUL dan molekul ini masih dpt dilihat.
Molekul jika dipecah pecah menjadi bagian yang lebih kecil lagi disebut ATOM. Atom terdiri dari INTI ATOM dan ELEKTRON.

Inti atom dibagi lagi menjadi dua bagian : PROTON dan NETRON,
Proton bermuatan positif (+), netron mempunyai muatan netral dan elektron bermuatan negatif (-). Elektron ternyata hidup dan berputar (thawaf) mengelilingi inti atom dengan kecepatan 300.000.000 meter/detik sama dengan kecepatan cahaya nampak.

Dari teori diatas dapat diambil kesimpulan: Bahwa pada hakekatnya tidak ada benda mati (meja kursi dll) karena apa? Karena elektron
selalu berputar/bergerak (thawaf) dengan kecepatan 300.000.000 meter/detik mengelilingi inti atom.

Siapa yang menggerakkan elektron tersebut? Apa karena adanya gaya tarik menarik antara proton dan elektron? Mungkin ya. Lantas siapa yg
memerintahkan terjadinya gaya tarik menarik tsb?

Dalam ibadah haji kita juga mengenal adanya thawaf (berputar mengelilingi Ka'bah). Ini identik dengan thawafnya elektron mengelilingi inti atom.
Dan juga identik dengan planet-planet (bumi, bulan, dll) di galaksi bimasakti yg berputar/bergerak (thawaf) mengelilingi matahari.
Yah, mungkin ini adalah salah satu tasbihnya ciptakan Allah SWT. (Wa Allahu a'lam bisshawab)

Lantas bagaimana dengan api, angin, air dan tanah? Tentu benda tsb juga bertasbih, dan untuk melakukan tasbih tentu mempunyai roh (daya hidup).
Malaikat juga bertasbih, karena jika malaikat tsb berhenti bertasbih maka dia akan mati. Ini artinya roh (daya hidup) malaikat tsb ada pada tasbih.

“Segala sesuatu jika berhenti bertasbih kpd Allah SWT maka sesuatu itu akan lebur, musnah, lenyap, hilang keberadaannya (eksistensinya).”


Dengan demikian berdasarkan dalil-dalil diatas penulis berkesimpulan bahwa api, angin, air dan tanah pun juga mempunyai roh, karena kempatnya juga selalu bertasbih.

=> HAWA dan NAFSU

Dalam Al'Qur'an nafsu diistilahkan dengan "jiwa". Ada nafsu/jiwa yg jahat dan ada juga nafsu/jiwa yg baik.

Nafsu menimbulkan atau mengeluarkan hawa yang dalam istilah selanjutnya digabung menjadi satu yaitu “HAWA NAFSU”.

Hawa adalah keinginan sedangkan nafsu adalah perbuatan.
Hawa bisa juga adalah radiasi yang ditimbulkan oleh nafsu.

Misalkan kita ingin makan, keinginan untuk makan itu disebut hawa.
Jadi hawa itu masih dalam batas keinginan.
Kemudian jika keinginan tersebut ditindaklanjuti sehingga kita makan, maka perbuatan makan tersebut disebut nafsu.

Jadi sebetulnya yang perlu di kendalikan itu adalah hawanya atau keinginannya.
Jika hawa terkendali otomatis nafsu juga akan terkendali.

Oleh sebab itulah kenapa istri nabi Adam AS diberi nama Siti Hawa. Karena memang berawal dari keinginan nabi Adam AS yang saat itu merasa kesepian.

Nafsu atau jiwa juga mempunyai jasad tapi jasad halus, dan didalam jasad halus itu juga ada rohnya.

Roh dari nafsu/jiwa berbeda dengan roh manusia, Roh manusia turun/ada pada janin bayi ketika janin bayi berumur antara 3 sampai 4 bulan dalam kandungan ibu. Sedangkan nafsu/jiwa saat itu sudah ada lebih dahulu. Makanya janin bayi sudah hidup dan berkembang (ada denyutan) karena memang disitu sudah ada rohnya, yaitu rohnya dari 4 nafsu/jiwa tadi.

KAPAN NAFSU-NAFSU (JIWA-JIWA) ITU MULAI ADA?

Nafsu/Jiwa sudah ada bersama sperma, dan bisa hidup lama jika bertemu dengan pasangannya yaitu sel telur (terjadi pembuahan) dan menempel di rahim untuk berkembang.

Sperma hidup dan bisa berlari dengan kecepatan tertentu mencari sel telur untuk menyatu (membuahi) dan hidup di dalam rahim.
Sperma hidup dan bisa berlari karena mengandung jasad-jasad halus (mengandung nafsu-nafsu/jiwa-jiwa) dimana jasad-jasad halus tersebut mempunyai roh.

Nafsu/jiwa hidup menyatu dengan jasad manusia, dan berkembang serta bertingkah laku mengikuti perkembangan jasad manusia, dari janin bayi dlm perut ibu, lahir menjadi bayi, menjadi anak-anak, remaja, pemuda/dewasa, dan akhirnya tua dan juga nafsu tersebut akhirnya juga mati (sempurna kembali ke asalnya).

JENIS-JENIS NAFSU

1. NAFSU AMARAH
Nafsu amarah disebut juga EGO adalah nafsu yang paling rendah, paling buruk dan paling jahat tingkatannya dibandingkan dengan nafsu-nafsu yang lainnya.
Bahkan ada yang mengatakan nafsu/ego ini lebih kejam dari pada 70 sifat syetan.

Firman Allah Ta’ala : Surat 12 (YUSUF) Ayat 53

............Karena Sesungguhnya nafsu amarah itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku........

Nafsu amarah secara bawaan lahir menempati lapisan pembungkus terluar sebagai pembungkus hati nurani dan cahaya nafsu ini berwarna merah.
Karena menempati lapisan terluar maka nafsu ini biasanya lebih cepat responnya kalau ada apa-apa dibanding dengan jenis nafsu yang lainnya.

Nafsu amarah berasal dari unsur saripati api, sama dengan jin yg juga diciptakan dari unsur api. Disini ada kesamaan unsur antara pembuatan manusia dengan pembuatan jin yaitu sama sama mengandung unsur api.
Karena berasal dari unsur api tentu nafsu ini juga akan membawa/mewarisi sifat-sifat dari api itu sendiri.
Sifat-sifat dari api antara lain adalah:

Api bersifat panas => Pada diri manusia nafsu ini selalu akan membangkitkan rasa panas/emosi/pingin marah-marah melulu/temperament, mudah tersinggung, ingin beranten, suka bikin jengkel orang lain dan suka jengkel kepada orang lain, suka memecah belah persatuan, memfitnah, mengadu domba, dalam skala negara ingin perang/menjajah/menguasai negara lain, dan lain sebagainya.

Api berwarna merah => Pada saat diri manusia dikuasai oleh nafsu ini biasanya raut mukanya berwarna merah, telinga juga merah, jantung berdetak kencang.

Api selalu mengambil posisi berdiri tegak keatas menantang, tidak ada api menyala kearah bawah atau kesamping. Jika nyala api diarahkan kesamping atau kebawah tentu ujung api tersebut tetap akan berusaha pada posisi berdiri => Jika manusia sedang dikuasai oleh nafsu api amarah ini maka pada diri manusia tersebut akan mempunyai sifat sombong, tidak mau menerima kebenaran seperti sifat Iblis, selalu berprasangka buruk terhadap orang lain, merasa paling benar sendiri, paling suci sendiri,. Padahal sombong adalah pakaian Allah SWT bukan pakaian manusia atau makhluk.

Namun demikian bukan berarti kita sebagai manusia tidak membutuhkan nafsu amarah. Sebagai manusia kita tetap harus punya amarah, tetapi amarah yang dibolehkan menurut ajaran Islam. Ambisi untuk maju itu nafsu amarah, ambisi untuk bisa naik jabatan dalam pekerjaannya itu juga nafsu amarah, ambisi untuk selalu menang dalam suatu persaingan dalam bidang apapun itu juga salah satu sifat nafsu amarah, dll.

Kalau manusia tidak punya nafsu amarah maka berarti dia bukan manusia, mungkin malaikat. Jadi intinya nafsu amarah itu harus tetap ada pada diri manusia, Cuma kitanya saja yg harus pandai-pandai mengendalikan hawa amarah yg ditimbulkan oleh nafsu amarah itu. WaAllahu’alam bissowab.

2. NAFSU LAWWAMAH

Firman Allah Ta’ala dalam AlQur’an : Surat 75 (Al Qiyaamah) Ayat 2:

“Dan tidak! Aku bersumpah dengan nafsu lauwamah (jiwa yang amat menyesali dirinya sendiri)”
Dalam tafsir DEPAG dijelaskankan bahwa : Bila ia berbuat kebaikan ia juga menyesal kenapa ia tidak berbuat lebih banyak, apalagi kalau ia berbuat kejahatan.

Jadi nafsu lawwamah itu nafsu yang selalu menyesali perbuatannya, baik perbuatan terpuji maupun perbuatan tercela, artinya bahwa nafsu ini diri yang tidak mempunyai pendirian.

Sifat seperti ini dimiliki oleh anasir angin dan memang nafsu ini tercipta dari anasir angin.
Coba kita perhatikan tingkah laku angin. Angin bergerak tidak tentu arahnya (tidak punya pendirian), terkadang ke arah utara, selatan, timur, barat, keatas dll. Bergeraknya angin biasanya tergantung oleh musim atau tekanan angin.

Jika manusia lebih dominant nafsu lawwamahnya maka orang tersebut cenderung mempunyai sifat tidak punya pendirian, selalu terbawa arus, plinplan, terbawa oleh mode trend saat itu.
Selain itu nafsu ini juga mempunyai sifat sama dengan sifat binatang, yaitu nafsu birahi/sex dan nafsu makan yg terkadang berlebihan.

Meskipun demikian nafsu ini tetap saja ada sisi baiknya, tinggal bagaimana kitanya saja.

Nafsu lawwamah secara bawaan lahir menempati lapisan pembungkus kedua dari luar setelah nafsu amarah sebagai pembungkus hati nurani dan Cahaya nafsu ini berwarna kuning.

3. NAFSU MULHIMAH

Nafsu mulhimah berasal dari anasir air. Karena berasal dari saripati air maka nafsu ini mewarisi sifat-sifat dari air.
Sifat-sifat dari air antara lain adalah:
Air selalu mencari posisi tempat yang paling rendah.
Jika lebih dominant nafsu mulhimah ini maka manusia tsb akan mempunyai sifat rendah hati terhadap sesamanya dan selalu merasa rendah diri dihadapan Tuhannya.
Air selalu mengambil bentuk dari wadah yang ditempatinya.
Artinya manusia tsb pandai menempatkan diri, pandai membawa diri terhadap lingkungan sekitarnya atau bisa menyesuaikan diri kepada siapa yang sedang dihadapinya, dll.

Selain itu nafsu ini juga mempunyai sifat empati, gampang iba dan belas kasihan terhadap sesama, suka menolong, dll.
Nafsu mulhimah secara bawaan lahir menempati lapisan pembungkus ketiga dari luar setelah nafsu lawwamah sebagai pembungkus hati nurani dan cahaya nafsu ini berwarna putih.


4. NAFSU MUTMAINAH

Firman Allah Ta’ala dalam AlQur’an : Surat 89 (Al Fajr) ayat 27
Yg artinya :
Hai jiwa yang tenang

Nafsu mutmainah berasal dari saripati tanah. Karena berasal dari saripati tanah maka nafsu ini mewarisi sifat-sifat dari tanah. Sifat-sifat dari tanah/bumi antara lain adalah:
Tanah/bumi sering disakiti tapi malah selalu memberi manfaat. Lihatlah tanah/bumi, di injak-injak, dicangkuli, diambil isi perutnya (diambil hasil tambangnya), digunduli rambutnya (ditebangi pohon-pohonnya), dirubah bentuknya (diratakan gunung-gunungnya) dan lain sbgnya. Namun tanah tetap sabar. Oleh karena itu orang yg sudah mencapai tingkatan sifat tanah/bumi atau nafsu mutmainah ini biasanya mempunyai sifat yang sabar, rela menanggung beban orang lain dan lain-lain.

Sifat lain dari nafsu ini adalah selalu ingin beribadah terus sehingga terkadang yang lainnya terlupakan.

Nafsu mutmainah secara bawaan lahir menempati lapisan pembungkus keempat dari luar setelah nafsu mulhimah sebagai pembungkus hati nurani dan cahaya nafsu ini berwarna hitam.

WaAlahu'alam bissowab